Portal Berita PENGAMAT RAKYAT02/11/2026
PENGAMAT RAKYAT
Menakar kebijakan dengan cermat, membela hak rakyat dengan terhormat.
⌕
CARI BERITATemukan berita berdasarkan judul, topik, atau kata kunci
ENTERTAINMENT · 18 Sep 2026 17:44 WIB · 70 dibaca · jangkauan 42

Awalnya Dikira Kucing Biasa, Hewan dari Bolivia Ini Ternyata Spesies Baru

Awalnya Dikira Kucing Biasa, Hewan dari Bolivia Ini Ternyata Spesies Baru
Ilustrasi kucing macan (tiger cat). (Foto: Shutterstock).
Oleh Zulkarnaini · Diperbarui 01 Nov 2026 13:48 WIB

JAKARTA - Seekor kucing yang sempat dianggap sebagai kucing biasa ternyata membawa kejutan besar bagi dunia ilmu pengetahuan.

Hewan itu ditemukan di Bolivia pada 2016. Saat masih kecil, seekor warga menemukannya di jalan dekat kawasan hutan. Warga tersebut lalu membawanya pulang karena mengira hewan itu kucing domestik.

Setahun kemudian, warga tersebut mulai menyadari ada yang berbeda. Kucing itu ternyata satwa liar. Ia kemudian menyerahkannya ke Senda Verde Wildlife Sanctuary agar mendapat tempat yang lebih sesuai.

Kabar mengenai kucing "aneh" itu sampai ke telinga Paola Nogales-Ascarrunz, ahli biologi sekaligus National Geographic Explorer yang bekerja di Bolivia.

Nogales-Ascarrunz merupakan ilmuwan utama sekaligus pendiri Bolivian Felids Research Program atau Programa de Investigación de Félidos Bolivia.

Ia langsung tertarik saat melihat kucing tersebut. Wajahnya kecil dan sedikit berkerut. Telinganya pendek dan bulat. Kumisnya panjang. Tubuhnya dipenuhi pola tutul seperti macan tutul.

Ukuran tubuhnya juga tergolong kecil. Penampilannya membuat Nogales-Ascarrunz penasaran. “Saya mengambil seratus foto kucing itu,” kenang Nogales-Ascarrunz. “Saya sangat terpesona.”

Saat itu, ia belum tahu bahwa kucing tersebut akan membawa sebuah penemuan besar. Penelitian yang kemudian diterbitkan di jurnal *Current Biology* mengungkap bahwa hewan tersebut merupakan spesies baru dari keluarga kucing.

Nama yang diusulkan untuk spesies ini adalah Leopardus tilcayo. Temuan tersebut menjadi perhatian karena para ilmuwan tidak sekadar mengubah status subspesies lama menjadi spesies baru. Hewan ini ternyata memiliki garis keturunan yang memang berbeda dari spesies lain yang selama ini dikenal.

Saat pertama kali melihat kucing tersebut, Nogales-Ascarrunz mengira hewan itu masih termasuk **Leopardus tigrinus**.

Spesies ini dikenal dengan beberapa nama, seperti tigrina, oncilla, tigrillo, dan little spotted cat.

Leopardus tigrinus pertama kali dideskripsikan pada 1775 berdasarkan ilustrasi seekor hewan yang ditemukan di Guyana Prancis. Setelah itu, spesies tersebut dianggap tersebar di sejumlah wilayah Amerika Tengah dan Amerika Selatan, termasuk Bolivia.

Keraguan mulai muncul pada 2019. Saat menyiapkan buku kecil mengenai spesies kucing di Bolivia, Nogales-Ascarrunz membandingkan foto kucing tersebut dengan gambar referensi dari Brasil.

Hasilnya tidak sama. Kucing yang ia temukan memiliki pola roset yang jauh lebih besar. “Ini sangat berbeda,” pikirnya.

Kecurigaan itu belum cukup untuk membuktikan bahwa hewan tersebut merupakan spesies baru. Para peneliti membutuhkan bukti genetik.

Beberapa tahun kemudian, kemampuan analisis genetik Nogales-Ascarrunz berkembang. Ia akhirnya bisa memeriksa genom kucing tersebut dengan lebih rinci.

Penelitian dilakukan bersama Eduardo Eizirik, ahli genetika dari Pontifical Catholic University of Rio Grande do Sul di Brasil, serta Jonas Lescroart dari University of Antwerp.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kucing tersebut menempati posisi berbeda dalam pohon kekerabatan keluarga kucing. Artinya, hewan itu bukan sekadar variasi dari spesies yang sudah dikenal.

Para peneliti kemudian mengusulkan nama Leopardus tilcayo. Nama tersebut diambil dari sebutan yang digunakan masyarakat setempat untuk kucing itu.

“Kami bertanya kepada masyarakat setempat, ‘Mengapa kalian menyebutnya tilcayo?’” kata Nogales-Ascarrunz, yang juga berasal dari Bolivia.

“Dan mereka menjawab, ‘Saya tidak tahu! Kakek saya menyebutnya tilcayo, jadi saya menyebutnya tilcayo."

Para peneliti belum menemukan arti khusus dari nama tersebut dalam bahasa Spanyol maupun bahasa Quechua yang digunakan di Bolivia.

Sampai sekarang, keberadaan L. tilcayo baru dipastikan di ekoregion hutan Yungas, Bolivia, yang berada di lereng timur Pegunungan Andes.

Banyak hal tentang kucing ini masih menjadi misteri. Para ilmuwan belum mengetahui secara pasti apa makanannya, siapa predatornya, bagaimana pola berkembang biaknya, dan seperti apa kehidupan hariannya.

“Begitu banyak hal mendasar yang belum diketahui,” kata Nogales-Ascarrunz, yang menjadi salah satu penulis utama penelitian tersebut.

Penemuan L. tilcayo tidak hanya menambah satu nama baru dalam daftar spesies kucing. Hasil penelitian juga mengubah pemahaman tentang kelompok tiger cat.

Tim peneliti membandingkan genom lengkap 38 individu dari genus **Leopardus**. Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang sebelumnya dianggap satu spesies ternyata memiliki keragaman yang jauh lebih besar.

Pada 2013, para ilmuwan sudah menemukan bahwa Leopardus tigrinus ternyata terdiri atas dua spesies berbeda.

Pemahaman itu kembali berkembang pada 2024 setelah muncul usulan adanya garis keturunan lain yang secara genetik berbeda.

Penelitian terbaru kemudian menunjukkan adanya lima spesies tiger cat. “Apa yang dulu kita anggap sebagai satu spesies, mulai kita lihat sebenarnya merupakan sebuah kompleks spesies,” kata Eizirik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa penampilan fisik saja tidak selalu cukup untuk membedakan spesies.

Panjang ekor, ukuran pola roset, dan bentuk gigi memang tetap menjadi petunjuk. Namun, genom bisa mengungkap perbedaan yang tidak terlihat secara kasatmata.

“Kami sudah mempelajari tiger cat selama sekitar 25 tahun, mencoba memahami keseluruhan genus Leopardus,” kata Eizirik.

Semakin rinci genom diteliti, semakin banyak variasi tersembunyi yang ditemukan. Kucing liar berukuran kecil menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti.

Banyak spesies memiliki tubuh, warna bulu, dan pola yang mirip. Rekaman kamera jebak di alam liar pun belum tentu cukup untuk menentukan identitas seekor kucing.

Contoh lain muncul dari spesimen museum yang digunakan dalam penelitian. Spesimen itu sebelumnya dianggap sebagai margay. Setelah diteliti lebih jauh, hewan tersebut ternyata merupakan tiger cat atau L. tigrinus.

Salah satu petunjuknya berasal dari arah pertumbuhan rambut pada bagian tengkuk. Teknologi genom kemudian membantu peneliti melihat perbedaan yang sulit ditemukan hanya lewat foto atau pengamatan lapangan.

James Sanderson, pendiri sekaligus direktur Small Wild Cat Conservation Foundation, menilai penemuan tersebut mengubah cara para ahli memahami kelompok kucing kecil.

“Penemuan satu lagi spesies tiger cat merupakan kabar yang mengejutkan. Namun, hasil penelitian ini secara mendalam mengubah cara para ahli kucing kecil mengelompokkan spesies dalam genus Leopardus,” kata Sanderson. Sanderson tidak terlibat sebagai penulis dalam penelitian tersebut.

Penelitian itu juga memberikan bukti mengenai subspesies baru tiger cat di Peru, yaitu **Leopardus tigrinus antisuyo**.

Sanderson menilai hasil penelitian tersebut membuka kemungkinan baru untuk memahami margay. Selama ini, margay dianggap sebagai satu spesies yang tersebar dari Meksiko hingga Argentina.

“Studi ini mengisyaratkan bahwa, setelah berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar satu juta tahun lalu, terdapat empat spesies margay yang berbeda,” kata Sanderson melalui email.

Sanderson juga merupakan anggota IUCN Cat Specialist Group. Eizirik mengatakan penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan kemungkinan tersebut.

Jumlah spesies ternyata tidak hanya penting bagi para ahli taksonomi. Perubahan klasifikasi juga bisa memengaruhi cara suatu satwa dilindungi.

Salah satu dasar penentuan status konservasi adalah wilayah persebaran dan jumlah populasi.

“Jika Anda menganggap tiger cat sebagai satu spesies yang sama dari Brasil bagian selatan hingga Kosta Rika, Anda akan menemukan bahwa spesies tersebut tidak terancam punah,” kata Eizirik.

“Tetapi jika kita menemukan bahwa itu bukan satu spesies, melainkan lima spesies, masing-masing harus dinilai secara terpisah.”

Perbedaan tersebut membuat kondisi setiap populasi perlu dilihat secara terpisah. Menurut Sanderson, jumlah spesies yang lebih banyak juga berarti setiap kelompok bisa memiliki populasi yang lebih kecil.

“Ketika tiga spesies menjadi lima spesies, setiap populasinya menjadi lebih kecil,” katanya. “Karena itu, upaya konservasi harus ditingkatkan, mungkin secara mendesak, tergantung pada perkiraan jumlah populasinya.”

Jumlah L. tilcayo yang hidup di alam liar sampai sekarang belum diketahui. Data tentang persebaran, jumlah populasi, habitat, dan ancaman terhadap satwa tersebut masih perlu dikumpulkan.

Sanderson juga melihat penemuan ini mungkin baru permulaan. “Bukan hal yang berlebihan untuk membayangkan bahwa metode yang lebih baik yang digunakan dalam penelitian ini akan mengungkap spesies baru kucing liar berukuran kecil di Afrika dan Asia,” katanya.

Nogales-Ascarrunz melihat penemuan tersebut bukan sekadar soal nama baru dalam daftar spesies. Temuan itu menunjukkan bahwa masih banyak bagian dari alam yang belum dipahami manusia.

“Dunia kita sangat kompleks,” katanya. “Terkadang kita berpikir bahwa sebagian besar sudah diketahui, bahwa tidak banyak lagi yang bisa ditemukan. Namun, kenyataannya justru sebaliknya.”

Penemuan spesies baru memang bukan hal langka dalam dunia penelitian. Banyak temuan datang dari kelompok serangga, mikroorganisme, dan organisme kecil lainnya.

Kasus L. tilcayo terasa berbeda. Seekor kucing liar dengan berat sekitar lima pon atau 2,3 kilogram ternyata bisa luput dari perhatian ilmuwan selama bertahun-tahun.

“Bahkan di antara kucing, masih ada hal-hal di luar sana yang belum dideskripsikan, yang belum ditemukan manusia,” kata Nogales-Ascarrunz.

“Jadi, mari kita keluar, menemukan mereka, dan melindungi mereka.”[]

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar yang ditampilkan.