Portal Berita PENGAMAT RAKYAT02/11/2026
PENGAMAT RAKYAT
Menakar kebijakan dengan cermat, membela hak rakyat dengan terhormat.
⌕
CARI BERITATemukan berita berdasarkan judul, topik, atau kata kunci
KULINER · 21 Sep 2026 13:27 WIB · 72 dibaca · jangkauan 59

Ini Biji Kopi Terbaik di, Kopi Aceh Termasuk Paling Mantap

Ini Biji Kopi Terbaik di, Kopi Aceh Termasuk Paling Mantap
Kopi Gayo, Aceh
Oleh PENGAMAT RAKYAT · Diperbarui 01 Nov 2026 14:22 WIB

JAKARTA - Kopi Arabika Gayo asal Aceh masuk lima besar biji kopi terbaik dunia versi TasteAtlas. Kopi yang dikenal berasal dari dataran tinggi Gayo itu menempati peringkat kelima dalam daftar *Best Coffee Beans Types in the World*. Daftar tersebut diperbarui TasteAtlas pada 16 September 2026.

TasteAtlas menyusun daftar tersebut berdasarkan sejumlah sumber. Penilaiannya mencakup ulasan pengguna, penghargaan, rekomendasi lokal, liputan media dan blog, serta ulasan konsumen.

TasteAtlas juga menjelaskan bahwa daftar tersebut bukan kesimpulan akhir tentang kopi terbaik di dunia, melainkan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan produk lokal kepada pembaca.

Kopi Arabika Gayo berada di antara sejumlah kopi dari negara lain. Berikut tujuh jenis kopi yang masuk daftar tersebut.

1. Café de Colombia

Kopi ini dibuat dari berbagai varietas kopi Arabika, seperti Caturra, Típica, Borbón, Maragogipe, Tabi, Colón, San Bernardo, dan Colombia yang kini dikenal sebagai Castillo.

Kopi tersebut dibudidayakan di kawasan penghasil kopi Kolombia yang berada di lereng Pegunungan Andes. Kawasan itu ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2011.

Kolombia menyumbang sekitar 12 persen dari produksi kopi dunia. Sebagian besar produksi tersebut dijalankan petani lokal di perkebunan kopi.

Café de Colombia dikenal memiliki aroma yang kuat, rasa yang kaya, dan cita rasa dengan tubuh yang penuh. Proses panen dilakukan beberapa kali dalam setahun sehingga kopi segar tersedia sepanjang tahun.

2. Arabica, Ethiopia

Spesies ini dianggap sebagai jenis kopi pertama dan saat ini menyumbang sekitar 60 persen dari total produksi kopi dunia.

Arabika berasal dari dataran tinggi bagian selatan Ethiopia. Kini kopi tersebut ditanam di berbagai wilayah, termasuk Afrika, Amerika Latin, Asia Tenggara, India, China, Karibia, dan kawasan Pasifik.

Tanaman Arabika membutuhkan iklim tropis dengan kondisi yang relatif stabil. Kopi ini tumbuh baik di dataran tinggi dengan paparan sinar matahari tidak langsung.

TasteAtlas menyebutkan ada sekitar 70 varietas Arabika. Typica dan Bourbon menjadi dua varietas yang paling dikenal.

Arabika memiliki rasa yang lembut dan kaya. Cita rasanya dapat menghadirkan nuansa cokelat, buah, kacang, dan beri. Kandungan kafeinnya juga lebih rendah dibandingkan Robusta.

3. Jamaican Blue Mountain Coffee

Kopi ini merupakan Arabika spesial yang ditanam di zona pegunungan Blue Mountain, Jamaika bagian timur.

Kopi tersebut tumbuh pada ketinggian sekitar 900 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut. Suhu yang sejuk, kabut yang cukup konsisten, tanah vulkanik, dan proses pematangan yang lebih lambat ikut membentuk karakter kopinya.

Produksi Jamaican Blue Mountain Coffee diatur oleh Coffee Industry Board of Jamaica. Hanya kopi yang ditanam dan diproses di wilayah yang telah ditetapkan yang boleh menggunakan label Jamaica Blue Mountain.

Kopi ini dikenal memiliki rasa yang lembut, tingkat kepahitan rendah, keasaman yang seimbang, dan hasil akhir yang bersih.

4. Robusta, Republik Demokratik Kongo

Robusta dikenal memiliki rasa yang lebih pahit dengan karakter kayu dan kacang. Bentuk bijinya cenderung lebih kecil dan bulat dibandingkan Arabika.

Secara ilmiah, Robusta masuk spesies Coffea canephora. Tanaman ini pertama kali ditemukan di Kongo dan berasal dari kawasan Afrika Tengah dan Afrika Barat, termasuk Angola, Liberia, dan Tanzania.

Robusta menyumbang sekitar 30 persen produksi kopi dunia. Tanaman ini dapat tumbuh di dataran rendah dan lebih tahan terhadap kondisi lingkungan yang keras dibandingkan Arabika.

Vietnam kini menjadi produsen Robusta terbesar di dunia. Brasil, Indonesia, dan India juga termasuk negara penghasil utama.

5. Kopi Arabika Gayo, Indonesia

Kopi ini dibudidayakan di dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh, yang mencakup Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues.

TasteAtlas menggambarkan Kopi Gayo memiliki rasa yang bersih, *body* sedang hingga penuh, serta tingkat keasaman yang rendah. Kopi ini juga dapat menghadirkan aroma herbal, tanah, dan rempah.

Kopi Arabika Gayo telah mendapat status Indikasi Geografis (IG) dari pemerintah Indonesia. Status tersebut tercatat dalam daftar resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dengan nomor IG.00.2009.000003.

Perkebunan kopi Gayo berada pada ketinggian sekitar 1.200 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut. Kondisi tersebut, ditambah tanah vulkanik dan iklim yang sesuai, mendukung pertumbuhan kopi Arabika.

Sebagian besar kopi Gayo dibudidayakan petani skala kecil. Banyak petani bekerja melalui koperasi yang mengembangkan praktik organik dan perdagangan berkelanjutan.

Kopi Gayo juga dikenal menggunakan metode wet hulling atau giling basah, teknik pengolahan yang banyak digunakan di Sumatera. Proses tersebut ikut membentuk karakter rasa yang khas.

6. Kafae Doi Chaang, Thailand

Kopi ini berasal dari pegunungan Doi Chaang di timur laut Thailand. Bahan bakunya berasal dari varietas Arabika Caturra, Catimor, dan Catuai. Kopi tersebut memiliki perpaduan rasa manis dan asam yang seimbang. Aroma madu juga muncul, disertai sedikit nuansa bunga dan ceri.

Petani memetik buah kopi secara manual. Biji kemudian diproses dan dipanggang dengan perhatian terhadap kualitas. TasteAtlas menyebut hasil akhirnya memiliki cita rasa yang kompleks dan penuh.

Kafae Doi Chaang juga dikenal memiliki kadar kafein yang relatif rendah. Kopi ini dapat dinikmati bersama susu dan gula.

7. Huehuetenango Highland Coffee, Guatemala

Kopi ini diproduksi di wilayah Huehuetenango, Guatemala, pada ketinggian hingga 1.900 meter. Tanaman yang digunakan merupakan Coffea arabica yang tumbuh di bawah naungan pohon-pohon tinggi.

Kopi Huehuetenango terdiri atas tiga varietas utama, yakni Typica, Bourbon, dan Caturra. Buah kopi dipetik satu per satu secara manual. Buah kemudian masuk ke proses fermentasi ringan untuk memisahkan biji dari daging buah.

Proses tersebut dimulai maksimal empat jam setelah panen dan berlangsung sekitar 24 hingga 36 jam. Biji kemudian dikeringkan setidaknya tiga jam dan dibalik secara manual selama proses pengeringan.

Hasil pemanggangan menghasilkan cita rasa floral dengan sentuhan madu dan cokelat susu. Wilayah Huehuetenango juga memiliki keterkaitan kuat dengan masyarakat lokal. Sebagian masyarakat adat di daerah tersebut menggantungkan perekonomiannya pada produksi dan perdagangan kopi.

Gayo Bersaing dengan Kopi Dunia

Posisi kelima Kopi Arabika Gayo menunjukkan bahwa kopi asal Aceh masuk dalam kelompok tujuh jenis biji kopi yang berada di jajaran teratas daftar TasteAtlas untuk 2026.

Kopi Gayo juga memiliki identitas geografis yang jelas. Kawasan produksinya berada di dataran tinggi Aceh dengan karakter lingkungan yang mendukung budidaya Arabika.

Ragam cita rasa menjadi salah satu hal yang membuat kopi dari berbagai negara memiliki karakter berbeda. Ketinggian, iklim, varietas tanaman, kondisi tanah, serta proses pascapanen ikut memengaruhi hasil akhir dalam setiap cangkir.[]

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar yang ditampilkan.