Portal Berita PENGAMAT RAKYAT02/11/2026
PENGAMAT RAKYAT
Menakar kebijakan dengan cermat, membela hak rakyat dengan terhormat.
โŒ•
CARI BERITATemukan berita berdasarkan judul, topik, atau kata kunci
INTERNASIONAL ยท 21 Sep 2026 13:55 WIB ยท 69 dibaca ยท jangkauan 57

Tak Punya Sepatu, Ibu 47 Tahun di India Berlari Ikut Lomba Lari Demi Pendidikan Dua Putrinya

Tak Punya Sepatu, Ibu 47 Tahun di India Berlari Ikut Lomba Lari Demi Pendidikan Dua Putrinya
Ramabai Ranveer mengikuti lomba lari sejauh 3 km dengan harapan bisa membawa pulang hadiah uang tunai yang cukup untuk membeli buku bagi putrinya.
Oleh Zulkarnaini ยท Diperbarui 02 Nov 2026 11:48 WIB

INDIA โ€“ Ramabai Ranveer tidak punya sepatu lari. Ia bahkan tidak pernah berlatih sebagai pelari. Namun, perempuan 47 tahun asal Maharashtra, India, itu tetap mengikuti lomba lari sejauh 3 kilometer.

Ramabai akhirnya menjadi peserta pertama yang melintasi garis finis.

Ia memenangkan hadiah 3.000 rupee atau sekitar Rp554.400. Uang tersebut ingin digunakan untuk membeli buku dan perlengkapan belajar kedua putrinya.

Bagi Ramabai, lomba itu bukan sekadar soal menjadi juara. Ia ikut berlari karena membutuhkan uang untuk membantu pendidikan anak-anaknya.

Kisah tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Video Ramabai berlari tanpa alas kaki menarik perhatian banyak orang dan mendapat sorotan media.

Cerita itu muncul ketika perhatian terhadap persoalan pendidikan di India juga semakin besar. Perjuangan Ramabai kemudian dianggap menggambarkan pengorbanan keluarga berpenghasilan rendah yang berusaha mempertahankan pendidikan anak.

"Apakah ini sebuah kebanggaan atau justru sumber rasa malu bagi kita sebagai masyarakat?" tulis seorang pengguna media sosial.

Pertanyaan tersebut ikut memicu perdebatan mengenai akses pendidikan dan kesenjangan ekonomi. Kisah Ramabai lalu berkembang menjadi gambaran tentang perjuangan orangtua yang berharap pendidikan dapat memberi kehidupan lebih baik bagi anak-anak mereka.

Keputusan Ramabai mengikuti lomba sebenarnya bermula dari permintaan putri sulungnya, Pooja.

"Pagi-pagi sekali putri sulung saya datang dan berkata, 'Ibu, saya ingin ikut lomba lari'," ujar Ramabai dikutip dari BBC News.

"Saya bertanya kepadanya di mana lomba itu diadakan, dan dia bilang lokasinya tidak jauh dari sini. Dia juga mengatakan bahwa jika menang, uang hadiahnya bisa membantu biaya pendidikannya."

Ramabai kemudian mengetahui hadiah bagi pemenang cukup untuk membantu membeli kebutuhan sekolah anaknya.

Putri bungsunya, Arati, yang tinggal di Nanded, juga sedang menghadapi persoalan biaya pendidikan.

"Saya tidak bisa mengirim uang untuk membeli buku, dan karena itu dia tidak menelepon saya selama delapan hari," kata Ramabai.

"Karena itulah saya memutuskan harus ikut lomba dan memenangkannya."

Niat itu membuat Ramabai turun ke lintasan meski tidak memiliki perlengkapan lari.

Ramabai mengikuti lomba bersama peserta lain yang sebagian lebih muda darinya.

Sandal yang dipakainya terus terlepas ketika berlari. Ia akhirnya melepas sandal tersebut, mengangkat sedikit sari yang dikenakannya, lalu melanjutkan lomba tanpa alas kaki.

Ramabai terus berlari dan meninggalkan peserta lain. Ia kemudian menjadi juara pertama pada kategori perempuan usia 30-60 tahun.

Putri sulungnya, Pooja, juga ikut berlomba. Ia finis di posisi kedua pada kelompok usianya.

Pooja justru lebih banyak memuji keberanian ibunya. Ia menilai Ramabai berani mengambil keputusan besar ketika keluarganya sedang membutuhkan uang untuk pendidikan.

Kemenangan tersebut memberi Ramabai hadiah 3.000 rupee. Jumlah itu memang tidak besar, tetapi memiliki arti penting bagi keluarganya.

Uang tersebut akan digunakan untuk kebutuhan pendidikan kedua putrinya.

Ramabai menjadi satu-satunya pencari nafkah setelah suaminya meninggal pada 2012.

Berbagai pekerjaan ia jalani untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Saya melakukan pekerjaan apa pun yang bisa saya dapatkan," ujarnya.

"Saya memanen kedelai dan kacang arab di lahan milik orang lain. Saya juga mengumpulkan kunyit, mengolahnya, lalu menjualnya."

Kondisi itu membuat pendidikan menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari.

Ramabai sendiri berhenti sekolah ketika berusia 13 tahun. Pengalaman tersebut membuatnya tidak ingin kedua putrinya mengalami hal yang sama.

"Saya percaya selama masih hidup, saya harus melakukan segala yang saya bisa agar putri-putri saya mendapatkan pendidikan yang baik."

Pendidikan menjadi harapan penting bagi keluarga tersebut. Dua putrinya kini memiliki cita-cita yang membutuhkan proses seleksi panjang.

Pooja tengah mempersiapkan diri mengikuti rekrutmen kepolisian. Putrinya yang lain bercita-cita masuk layanan sipil.

Kedua jalur karier tersebut dikenal sangat kompetitif. Banyak anak muda India menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan ujian dan seleksi pekerjaan pemerintah.

Persiapan itu juga membutuhkan biaya. Peserta biasanya harus menyediakan buku, materi belajar, dan dalam banyak kasus mengikuti bimbingan belajar.

Harapan Ramabai memiliki kesamaan dengan jutaan keluarga lain di India yang ingin anak-anak mereka mendapatkan masa depan lebih baik melalui pendidikan.

Masalahnya, perjalanan menuju pekerjaan yang stabil tidak selalu mudah. Persaingan tinggi dan biaya pendidikan dapat menjadi beban bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Kondisi tersebut semakin terasa bagi anak muda yang mengejar pekerjaan sektor pemerintahan. Pekerjaan tersebut dipandang menawarkan keamanan kerja dan status sosial yang baik.

Jutaan anak muda menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempersiapkan ujian rekrutmen. Mereka juga harus membayar biaya bimbingan belajar dan membeli berbagai materi pembelajaran.

Kepercayaan terhadap sistem tersebut belakangan menghadapi tekanan. Dugaan kebocoran soal ujian dan berbagai penyimpangan dalam proses seleksi memicu kekecewaan.

Kontroversi itu memperkuat frustrasi terhadap pendidikan dan kesempatan kerja. Sejumlah aksi mahasiswa dan gerakan anak muda muncul membawa tuntutan perubahan dalam sistem pendidikan India.

Kehidupan Ramabai tetap berjalan seperti biasa setelah memenangkan lomba.

Ia kini bekerja sebagai juru masak di sebuah lembaga bimbingan belajar. Tempat tersebut menjadi lokasi putrinya mempersiapkan diri untuk seleksi rekrutmen kepolisian.

Pekerjaan itu menjadi salah satu cara Ramabai membantu biaya pendidikan anaknya.

Kisahnya kemudian menarik perhatian pemerintah. Awal bulan ini, Ketua Mahkamah Agung India Surya Kant memerintahkan pejabat setempat memberikan bantuan keuangan sebesar 50.000 rupee atau sekitar Rp9,24 juta kepada Ramabai.

Bantuan tersebut diberikan setelah kisah perjuangannya mendapat perhatian luas.

Namun, persoalan yang lebih besar tetap menjadi bahan pembicaraan. Sukhadeo Thorat, mantan ketua Komisi Hibah Universitas India, menilai kisah Ramabai mencerminkan masalah struktural dalam akses pendidikan.

"Jika seorang perempuan harus berjuang sekeras ini demi pendidikan putri-putrinya, itu menunjukkan bahwa program pendidikan pemerintah belum menjangkau masyarakat secara memadai," katanya.

"Baik pemerintah pusat maupun pemerintah negara bagian memiliki beragam program bantuan. Masalahnya, pelaksanaannya masih lemah."

Perdebatan mengenai sistem pendidikan bukan hal utama bagi Ramabai.

Ia hanya ingin kedua putrinya mendapat kesempatan yang lebih baik daripada yang pernah ia miliki.

"Saya tidak ingin mereka mengalami kesulitan seperti yang saya alami," ujarnya.

"Saya tidak ingin mereka harus berkutat dengan lumpur atau bepergian di bawah terik matahari dan hujan. Apa pun penderitaan yang saya rasakan, saya tidak ingin putri-putri saya merasakan hal yang sama."

Keinginan tersebut yang membawanya ke lintasan lomba pada Agustus lalu.

Ramabai datang tanpa sepatu lari dan tanpa pengalaman sebagai atlet. Ketika sandalnya mengganggu langkah, ia melepasnya dan berlari tanpa alas kaki.

Hadiah 3.000 rupee memang tidak cukup untuk menyelesaikan seluruh kebutuhan pendidikan dua anaknya. Namun, bagi Ramabai, uang tersebut bisa menjadi satu langkah kecil untuk membantu putrinya terus belajar.

Kisahnya pun berubah menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang perempuan yang memenangkan lomba lari. Ramabai menunjukkan bagaimana kebutuhan pendidikan bisa mendorong seseorang mengambil keputusan sederhana, tetapi penuh pengorbanan.

Ia berlari karena ingin kedua putrinya memiliki kesempatan yang dulu tidak pernah ia dapatkan.[]

KOMENTAR (0)

Belum ada komentar yang ditampilkan.